Berlangganan Artikel Kami, Masukan alamat email anda:

Tampilkan postingan dengan label malware. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label malware. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Desember 2012

Ini Bahaya PC dengan Software Bajakan



Jakarta - Personal Computer (PC) atau laptop yang diinstal dengan software bajakan menyimpan bahaya laten seperti malware dan sejenisnya. Tak sekadar menginfeksi komputer, bahaya lain juga mengintai pengguna software bajakan ini.
Dikatakan Reza Topobroto, Director Legal Affair Microsoft Indonesia, di dalam DVD software bajakan setidaknya rentan beredar 'penyakit' yang ditulari ke komputer, yakni virus, worms, trojan dan bots.

"Kami meneliti dengan mengambil sejumlah sampel 66 DVD bajakan dan 52 laptop PC bajakan di sejumlah negara di ASEAN. Forensic expert kami mengidentifikasi malware-malware yang ditemukan dan dibongkar tingkah laku dari malware itu. Ke mana malware itu berkoneksi. Karena para penjahat cyber tadi membawa pergi data-data pengguna," jelasnya.

Secara spesifik trojan misalnya, mampu melakukan kejahatan seperti, spyware, roque security software dan password stealer (pws). Dan semuanya nyaris ditemukan baik itu di DVD maupun laptop dengan software bajakan.

"Spyware, misalnya, ini mengoleksi banyak data, termasuk personal informasi seperti kebiasan berinternet, user login dan informasi kartu kredit," kata Reza, kepada sejumlah wartawan di Hotel Four Season, Kamis (20/12/2012).

Lain halnya dengan Roque Security software, modus ini seolah-olah mengamankan malware padahal sebaliknya. 

"Sedangkan PWS lebih bahaya lagi karena mengirimkan data (yang telah dicuri-red) ke pencipta malware tersebut," tutur Reza.

Tak hanya itu, modus dengan aplikasi Ose.exe mampu berkamuflase sebagai sebagai Office dan mampu melacak password dan informasi penting lainnya.

Penanganan

Untuk itulah, Microsoft menyarankan konsumen untuk membeli laptop atau PC yang menggunakan software asli. Termasuk menghindari membeli laptop naked alias tanpa OS.

"Mengetahui software ini palsu atau asli mudah cukup melihat COA (Certificate of Authenticity) saja. Setiap produk PC dan laptop, software asli di belakangnya ada stiker COA. Namanya COA tidak pernah terpisah. Selalu ditempel. Jika ada yang terjual terpisah, patut dicurigai," lanjutnya.

Cara kedua adalah dengan melihat product key label yang biasanya dijual dalam bentuk CD. Ini juga harus dipastikan ada.

"Yang terakhir adalah dengan membeli PC dan laptop di toko resmi. Bukan toko abal-abal. Karena bahayanya biasanya besar," tandasnya.

Sabtu, 08 Desember 2012

Program Jahat Menyamar Jadi Antivirus


WASHINGTON - Sebuah varian program jahat atau malware baru mencoba menipu pengguna dengan menyamar menjadi komponen antivirus Trend Micro. Program jahat tersebut bekerja sebagai aplikasi Bitcoin miner yang menghasilkan uang bagi pembuatnya.

Dilansir dari The Next Web, Sabtu (8/12/2012), program jahat yang menyamar sebagai aplikasi keamanan bukanlah sesuatu yang baru. Namun kombinasi antara penyamarannya dengan Bitcoin miner membuatnya menjadi hal baru. Trend Micro mendeteksi program jahat tersebut sebagai TROJ_RIMECUD.AJL.

Taktik yang digunakna oleh penjahat cyber dalam kasus tersebut sangat sederhana. Mereka memancing pengguna agar menjalankan aplikasi dengan cara meyakinkan bahwa file tersebut berasal dari produk Trend Micro.

Ketika pengguna mengaktifkan program jahat itu, akan tercipta proses svchost.exe (sama dengan proses yang dilakukan Windows untuk layanannya). Proses tersebut akan digunakan untuk mengunduh paket komponen berbahaya ke dalam PC pengguna. Paket inilah yang mengandung Bitcoin miner dengan nama HKLT_BITCOINMINE.

Bitcoin tersebut adalah mata uang digital yang saat ini banyak digunakan sebagai alternatif dari bentuk umum uang. Karena tidak ada pembuat utama untuk mata uang ini, maka tidak ada kekuasaan yang mengaturnya dan tidak ada cara untuk mengunci seorang pengguna atau negara dari jaringan Bitcoin. (yhw)

Minggu, 25 November 2012

Tips Lindungi Perangkat Android dari Malware


Jakarta - Sudah menjadi rahasia umum jika sistem operasi Android tergolong rentan terserang program jahat (malware). Ini karena kebijakan Google cenderung terbuka pada Play Store dalam menyeleksi aplikasi yang masuk.

Kebijakan yang diterapkan Google ini tentu saja berbeda dengan kebijakan Apple di App Store yang memberlakukan sistem sangat ketat dalam proses masuknya sebuah aplikasi ke App App Store hingga bisa diunduholeh pengguna.

Munculnya peringatan dari Internet Crime Complaint Center (IC3), divisi di bawah Biro Investigasi Federal AS FBI pada bulan lalu, bisa jadi merupakan teguran bagi para pengguna perangkat Android untuk lebih berhati-hati dalam memilih aplikasi.

Berikut kami paparkan sejumlah tips yang diharapkan bisa melindungi perangkat Android Anda dari serangan malware:

1. Saat membeli smartphone atau tablet, Anda perlu mengetahui fitur-fitur dari perangkat itu, termasuk default setting. Anda tidak perlu mematikan semua fitur di perangkat Android demi meminimalkan serangan malware.

2. Tergantung dari tipe perangkat yang Anda pakai, ada versi OS (sistem operasi) yang menyediakan encryption. Enkripsi itu bisa Anda pakai melindungi data pribadi jika suatu ketika perangkat Android hilang atau dicuri.

3. Dengan terus berkembangnya pasar aplikasi perangkat mobile, Anda perlu membaca terlebih dahulu review dari aplikasi yang akan Anda unduh, baik dari pihak pengembangnya maupun review dari komunitas.
Adsense Indonesia
4. Pelajari dan mengerti permissions yang ada dalam aplikasi yang muncul saat Anda akan mengunduhnya.

5. Anda perlu memproteksi perangkat Android Anda dengan menggunakan passcode. Cara ini merupakan langkah paling dasar untuk memberikan pengamanan pada ponsel Anda.

Selain passcode, Anda juga perlu mengaktifkan fitur screen lock setelah beberapa menit dalam mode tidak aktif.

6. Gunakan aplikasi anti-malware atau anti-virus untuk perangkat Android yang Anda pakai. Carilah aplikasi anti-virus yang mampu membantu melindungi perangkat Android Anda dari malware.

7. Waspadalah dengan aplikasi yang mengaktifkan Geo-location. Aplikasi semacam itu akan mampu melacak lokasi keberadaan Anda.

Aplikasi ini bisa saja merupakan sarana pemasaran bagi perusahaan, namun sangat mungkin dimanfaatkan oleh pihak lain untuk mengikuti keberadaan Anda untuk keperluan jahat.

8. Jailbreak atau rooting Android dipakai untuk menerobos sejumlah batasan yang diberikan vendor atau opsel dalam Android. Dengan rooting maka Anda akan bisa mengontrol semua bagian di perangkat Android yang Anda pakai.

Meski demikian, perlu diingat bahwa rooting seringkali mengorbankan security dan meningkatkan kemungkinan masuknya malware ke Android.

Saat aplikasi dijalankan dalam level 'unrestricted' atau 'system' dalam rooted Android, artinya Anda memberikan izin pada aplikasi yang dimaksud untuk mengontrol semua bagian dari perangkat Android tersebut.

9. Jangan pernah menghubungkan perangkat Android ke WiFi yang tidak Anda kenali. Jaringan WiFi yang tidak Anda kenal bisa saja merupakan cara licik untuk mengakses perangkat Andrioid Anda.

Cara itu dipakai untuk mendapatkan informasi yang tertransfer antara perangkat Android yang Anda pakai dan server.

10. Jika Anda memutuskan menjual perangkat Android yang Anda pakai saat ini, pastikan Anda terlebih dahulu melakukan wipe atau reset to factory default. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari adanya data pribadi yang tertinggal dalam perangkat.

11. Perangkat Android membutuhkan update untuk bisa menjalankan aplikasi dan firmware. Jika Anda menolak update ini maka risiko terkena aksi peretasan akan semakin tinggi ketimbang perangkat yang menerima update resmi.

12. Hindari mengklik link atau download software dari sumber yang tidak Anda kenal.

13. Atur tindakan pencegahan dalam setting koneksi internet seperti yang Anda lakukan pada komputer. [mor]
>